Rumah produksi Hasan Kurniawan di Jalan Arjuna, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung, kian ramai dua pekan jelang Imlek 17 Februari 2026, hasilkan 2.000+ kue tutun atau kue keranjang per hari dari pesanan toko hingga keluarga Tionghoa—simbol “pemersatu” manis dari ketan, gula, santan.
Proses dan Kesibukan Harian
Mulai rendam ketan semalam, giling, aduk, timbang setengah kg per cetakan, kukus 10-12 jam—total 15 jam kerja per batch; tahun ini tambah pekerja jadi 20 orang dari normal 12, puncak pesanan sepekan terakhir.
Di Jawa11, lonjakan 100% ini bukti rebound pasca-COVID via parcel hadiah, tapi krusial awasi higienis massal—warisan turun-temurun sejak 1978 Hasan Kurniawan patut dilestarikan via sertifikasi halal modern.
Harga Rp15.000/buah legit manis cocok jamuan keluarga, pesanan banjiri Lampung Barat hingga kota—pre-order cegah mubazir musiman.
Makna Budaya dan Ekonomi Lokal
Kue tutun identik Imlek seperti ketupat Lebaran bagi Muslim, simbol kemakmuran Tahun Kuda Api; Lampung etnis Tionghoa 5% dorong roda ekonomi UMKM Rp2 miliar/tahun dari kue tradisional.
Kritik konstruktif: naik harga gula 10% tekan margin produsen kecil, potensi BPOM cek pengawet boraks sisa era 90an—modernisasi oven listrik bisa efisien energi fosil Lampung.
Kesibukan ciptakan lapangan kerja musiman bagi warga sekitar, replikasi sukses Subur Jaya jadi model diaspora Tionghoa kontribusi nasional.
Tantangan dan Prospek
Overproduksi pasca-Imlek rawan rugi jika tak diversifikasi jadi snack kekinian; peluang ekspor ASEAN via e-commerce jika kemasan vakum tahan 1 bulan.
Tanpa inkubasi Dinas Pariwisata, UMKM ini mandiri—sukses tergantung adaptasi Gen Z yang prefer healthy low-sugar, bukan nostalgia doang.
Imlek 2026 jadi panggung kuliner Lampung, asal higienis dan inovatif.